Make your own free website on Tripod.com
KEUNGGULAN ISLAM
Alif Laam Miim (Al-Baqarah: 1)

Home

AL-QURAN | HADIS | BAHR AL-MAADZI | SEJARAH | TOKOH ISLAM | TAZKIRAH | PERSOALAN | ALBUM | PERBINCANGAN | FAIL | NASYID | LINK

Para ahli tafsir telah berbeda pendapat mengenai hurup-hurup potongan yang terdapat pada awal beberapa surat. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa itu merupakan hurup-hurup yang hanya Allah sendiri yang mengetahui maknanya. Maka, mereka mengembalikan ilmu mengenai hal itu kepada Allah dengan tidak menafsirkannya. Pendapat ini dinukil al-Qurthubi dalam dalam tafsirnya dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Ibnu Mas'ud Radhiallahu 'anhum.

Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, huruf-huruf itu adalah nama-nama surat Alquran.

Dalam tafsirnya, al-Allamah Abul Qasim Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari menyatakan hal tersebut menjadi kesepakatan banyak ulama. Beliau juga menukil dari Sibawaih bahwa ia menegaskan memperkuat hal itu. Berdasarkan hadis dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw pernah membaca surat alif lam mim as-Sajdah (surat As-Sajdah) dan hal ata /ala al-insan (surat Al-Insan) pada salat subuh pada hari Jumat.

Sebagian ulama meringkaskan dari masalah ini dengan menyatakan, tidak diragukan lagi bahwa hurup-hurup ini tidak diturunkan Allah SWT dengan sia-sia dan tanpa makna. Orang yang tidak tahu mengatakan bahwa di dalam Alquran terdapat suatu hal yang tidak memiliki makna sama sekali, ini merupakan kesalahan besar. Karena, ternyata suatu hal yang dimaksud itu pada hakikatnya memiliki makna, jika kami mendapatkan riwayat yang benar dari Nabi saw tentu kami akan menerimanya. dan jika tidak, maka kami akan menyerahkan maknanya kepada Allah SWT seraya berucap, kami beriman kepadanya. Semuanya berasal dari sisi Rabb kami.

Dan, para ulama sendiri belum memiliki kesepakatan mengenai hurup-hurup tersebut, dan mereka masih berbeda pendapat. Barangsiapa yang menemukan pendapat yang didasarkan atas dalil yang kuat, maka hendaklah ia mengikutinya, jika tidak, hendaknya ia menyerahkan maknanya kepada Allah SWT sehingga diperoleh kejelasan mengenai hal tersebut.

Sumber: Terjemahan Lubabut Tafsir min Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir), Tim Pustaka Imam as-Syafi'i